Kamis, 11 September 2008

Politik Perempuan Menuju Pemilu 2009


Adanya peraturan Pemilu yang mengatur keterwakilan perempuan ( women representativeness ) dengan kuota 30 persen dalam kancah politik Indonesia merupakan suatu langkah maju bagi kemajuan kaum perempuan Indonesia. Jalan untuk mengembangkan diri mulai terbuka makin lebar. Peraturan ini tidak serta merta mendapat sambutan yang baik dari keseluruhan kaum perempuan itu sendiri. Ada yang bergairah menyikapi peraturan ini, adrenalin politiknya menggelora melahirkan tindakan-tindakan progresif. Sebaliknya ada yang menanggapi dengan dingin.
Pertanyaan pertama yang muncul di pikiran penulis sebagai seorang perempuan adalah: Apakah kaum maskulin yang cenderung menganggap politik sebagai domain kelelakian, rela jika kursi empuk yang mereka dambakan dalam politik ’’dirampas’’ oleh perempuan?Kiprah Perempuan dalam Politik.


Sebenarnya telah banyak contoh-contoh keberhasilan perempuan dalam berbagai bidang. Di Indonesia, berbagai posisi penting di sektor pemerintahan sudah tidak lagi tabu dijabat oleh perempuan. Beberapa menteri dengan posisi sangat penting dipegang perempuan. Seperti dalam kabinet Indonesia sekarang ini Mentri Perdagangan Marie Pangestu, dan Mentri Keuangan Sri Mulyani. Mereka adalah perempuan-perempuan yang berpengaruh besar terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi tanah air. Lebih dari itu, Indonesia bahkan sudah pernah dipimpin oleh presiden perempuan, Megawati Soekarno Putri, meskipun kepemimpinan Megawati dinilai belum cukup mewarnai kancah politik tanah air, malah mengundang kontroversial. Kepemimpinannya relative pendek, sehingga masyarakat belum bisa men-judge keberhasilan ataupun kegagalan kepemimpinannya secara lebih kasat mata.


Di tingkat internasional, cukup banyak perempuan pemimpin yang tercatat sepanjang sejarah. Margareth Thatcher seorang perdana menteri di Great Britain/United Kingdom pada tahun 1979-1990 terkenal dan disegani dunia dengan sebutan wanita bertangan besi (iron lady) dalam ’’kesangarannya’’ menentang komunimisme. Presiden Filipina Corazon Aquino (1986-1992) tercatat sebagai wanita Asia pertama yang tampil sebagai presiden di dunia. Di Pakistan, Benazir Bhutto adalah perempuan pertama yang memimpin Negara muslim di masa pasca-kolonial. Namun, nasib buruk menimpanya. Benazir terbunuh pada 27 Desember 2007 dalam sebuah insiden pemboman saat kampanye Pemilihan Umum di awal 2008. Tak kalah lagi dengan gebrakan presiden Chili, Michelle Bachelet (2006-sekarang) dengan komitmen kesetaraan gender, sesaat setelah dinyatakan menang, Michelle langsung membentuk kabinetnya dengan komposisi fifty-fifty antara laki-laki dan perempuan, yakni dengan komposisi 10 laki-laki dan 10 perempuan.


Perempuan-perempuan tersebut adalah perempuan tangguh yang menjadi pemimpin karena dipilih rakyat dan karena perjuangan mereka, bukan karena hadiah garis keturunan seperti ratu ataupun putri-putri raja.


Beberapa contoh pemimpin perempuan dunia di atas, hendaknya dapat membuat perempuan Indonesia bangun. Tidak lagi mau dininabobokan dengan segala bentuk konsumerisme, hidonisme ataupun kapitalisme.


Strategi Ada beberapa strategi yang dapat di lakukakn perempuan untuk bisa eksis dalam kancah politik di tanah air. Pertama, perempuan harus makin mengasah kepekaan politik (political sense). Caranya melalui pendidikan politik dalam transformasi politik berbasis ilmu pengetahuan. Perempuan tidak lagi bermalas-malasan membaca buku-buku ilmu politik atau pun berita-berita yang menyangkut politik. Kedua, perempuan harus mampu membangun komunikasi yang menyeluruh (vertical-horizontal-diagonal ) baik secara verbal maupun nonverbal. Dalam hal ini perempuan harus berani ’’menjual diri’’ melalui dialog, komunikasi di tengah-tengah masyarakat / kelompok masyarakat ataupun melalui tulisan-tulisan di media massa.


Ketiga, Perempuan harus berani melakukan penawaran politik (political bargaining) di partai politik yang menjadi kendaraannya. Ketika seorang perempuan sudah duduk di kepengurusan partai politik, ia harus punya nilai tawar dan nilai jual untuk menuju kursi legislative. Karena kursi legislative adalah tempat yang tepat untuk menyalurkan dan mewujudkan berbagai aspirasi secara langsung (politic in action). Maukah partai yang menjadi kendaraan politik tersebut menempatkan keterwakilan 30 persen perempuan pada posisi jadi? Peranan Perempuan dalam Politik


Jangan pernah mengecilkan arti perempuan dalam ranah politik. Perempuan sebagai kaum feminis diyakini dapat menjadi cooler maupun refreshner di tengah panasnya suhu politik Mengembalikan kepercayaam masyarakat yang tengah dilanda krisis terhadap berbagai elemen politik selama ini. Perempuan sebagai softener, di tengah kerasnya politik yang penuh dengan tricks (tipuan-tipuan) diharapkan dapat meminimalisir kejahatan-kejahatan politik yang secara kasat mata didominasi laki-laki. Naluri keibuan seorang perempuan dalam bertindak cenderung melakukan pengkajian yang lebih dalam terhadap suatu tindakan dan akibatnya. Sifat perempuan yang lebih teliti dan hati-hati dapat menjadi perisai terhadap niat-niat kejahatan. ***



Oleh: Nensy Suryati S.Pd.Sekretaris Harian Ikatan Wanita Minang (IWM) Kota Batam

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Selamat dan sukses untuk IWM kota Batam, semoga dapat menyatukan visi dan misi masyarakat minang diamnapun berada